Kamis, 16 Juni 2016

Bapak tua tanpa nama


Senyumnya tetap tulus di tengah teriknya matahari siang ini. Sebuah topi kumal setia bertengger di kepalanya, dengan rambut yang kesemuanya hampir memutih, topi yang selalu sama setiap harinya. Baju seadanya, wajah keriput dengan sandal jepit berwarna putih, merah tua pada pengaitnya. Ada kekaguman yang terbersit di hati setiap melihatnya. Jujur, setiap malas mulai melanda tubuh ringkih ini aku selalu mampir ke tempat itu, sebuah minimarket di perempatan jalan, aku melihatnya tajam tanpa dia tahu. Serentet doa sederhana pun muncul, Tuhan berikan sedikit semangat bapak tua itu untukku, buat aku malu kalau perlu sangat malu ketika kata boring, malas, tidak mood melanda diri ini.

Saat engkau merasa paling sengsara karena rindu





Lihatlah penyanyi jalanan yang hanya bermodal sebuah gitar, kadang suaranya sampai serak, kadang juga parau, namun hanya beberapa rupiah saja yang didapatkannya.

Pengemis kecil tanpa alas kaki, bajunya kumal karena tak pernah diganti, ragu untuk melangkah terkadang, mukanya meringis, kadang juga cengas-cengis, bercampur malu dan takut dengan suara lantang yang muncul dari depan pintu.

Selasa, 14 Juni 2016

Lelaki Serupa Perempuan


Dia adalah orang special yang bekerja melawan gelap-gemerlapnya malam,
tidak ada yang mau hidup sepertinya, karena manusia tercipta tentu dibekali nurani, dan setiap nurani pasti bersih dan suci, aku yakin itu. 

Dari satu tempat ke tempat yang lain, memakai pakaian yang tidak seharusnya, sesekali bermain mata, dan benci sekali kepada kaum kami, "Hawa". 
Sebenarnya saat itu aku juga takut, takut dan agak ngeri melihat tampangnya, berbekal alat musik berbentuk lingkaran berwarna kuning emas dengan lonceng cukup banyak berjarak beberapa sentimeter untuk kemudian bertemu dengan lonceng yang lain, aku tak tahu nama alat musik itu, tapi bunyinya "icik icik icik" dengan suaranya pas-pasan yang dicengkok-cengkokkan sebisanya dia berkata...
"makasih cinta" lalu melengos begitu saja seperti tak terjadi apa-apa. 

Suasana menjadi hening, aku tak bisa berkata apapun, seperti ada yang tercekat di tenggorokan.

Hidup adalah sebuah pilihan, tidak ada yang salah, namun di satu detik sebelum dia pergi, kuangkat tanganku dan kusematkan doa dalam hati,

Tuhanku, bahagiakanlah dia. Aamiin.

Minggu, 12 Juni 2016

Liana

Chapter 1 : Arti Sahabat 



Senja di kotaku sore itu tak seperti biasanya, cahaya sang surya yang hampir tenggelam di ufuk barat tampak begitu merah, merah karena Sang Pencipta sedang menguji kita atau karena Dia sedang marah? Ataukah karena terlalu banyak darah yang tertumpah di sana? Wallahu 'alam, hanya Dia yang tahu jawabnya.

Di tenda-tenda pengungsian yang penuh dengan korban gempa itu, terlihat sesosok wanita berpostur tinggi sedang berdiri di sana, ia tampak cantik dengan kerudung putihnya, Liana namanya, matanya yang sayu menatap ke arah langit dengan penuh harap, tanpa terasa ada bulir bening mengalir dari sana.

Minggu, 01 Mei 2016

Review film Ada Apa dengan Cinta 2


Di 1 jam 52 menit itu aku sedikit terbawa.
"Masa lalu" masa yang selalu indah untuk dikenang, bukan karena ia takkan pernah kembali, melainkan karena akan selalu terukir senyum di hati ketika kita memulai membukanya. Meski aku tahu, tak selalu kenangan itu manis, tapi tetap saja... hati dan otak kita itu lebih pintar! Jadi, hanya kenangan indah saja yang akan tertinggal, sementara yang sedih akan hilang begitu saja terbawa angin senja.

Entahlah, bagaimana menurut pendapat kalian. Karena aku tahu, pendapat setiap orang itu kadang berbeda.
Tapi bagiku... maksudku, dari kacamata sastra-ku yang tentunya sedikit sentimental, aku mengatakan film ini cukup pintar membuka kenangan.
Satu hari yang terlewati bersama mantan dan menumbuhkan benih-benih itu kembali.